nusabali

Pedagang di Destinasi Wisata Rice Terrace Tegalalang Memprihatinkan

  • www.nusabali.com-pedagang-di-destinasi-wisata-rice-terrace-tegalalang-memprihatinkan

GIANYAR, NusaBali.com – Teras Sawah Tegalalang di Kabupaten Gianyar atau dikenal pula sebagai Tegalalang Rice Terrace adalah objek wisata persawahan terasering yang menjadi salah satu favorit di Bali.

Namun saat pandemi dan PPKM berlangsung, seolah tanpa ada ‘kehidupan’ di sana. Sepi, sepi dan sepi. Wisatawan yang biasanya melimpah dan membuat geliat ekonomi dengan hadirnya kios atau artshop-artshop, kini tak ada lagi. Alhasil tanpa adanya wisatawan, puluhan kios-kios yang berada di sepanjang Jalan raya Tegalalang, Dusun Ceking, menjadi terdampak.

Pemilik kios sebagian besar menutup usahanya. Mulai dari penjual Pernik souvenir, baju hingga lukisan lebih banyak yang tutup daripada buka.


Di antara yang buka pada Kamis (27/8/2021) adalah kios Shindu Bali yang memajang sejumlah lukisan. “Saat ini, terutama adanya PPKM, menjadi cobaan paling berat selama berjualan di sini, kata Made Kasih Sukarsana, 42, perempuan asal Tampaksiring selaku pemilik kios.  

Penghasilan yang diperolehnya dari berjualan di masa pandemi, diakui sangat tidak menentu. “Apalagi masa PPKM sekarang ini, kadang dalam satu minggu dapat berjualan Rp50000 pun sudah sangat bersyukur, yang penting dapat modal untuk beli stok dagangan saja,” ujar pedagang yang sudah empat tahun membuka usaha di kawasan wisata persawahan ini.

Padahal sebelum masa pandemi,  rezeki di kawasan ini sangat membantu penghidupan keluarganya.  “Dulu sebelum pandemi, pukul 08.00 pagi atau pukul 09.00 pagi sudah di sini saya, kalau sekarang pukul 14.00 baru buka. Itu pun saya menyambi membuat canang, supaya tidak bengong di sini,” tuturnya.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Jero Tampaksiring, yang merupakan salah seorang pedagang  baju dan souvenir di kawasan yang sama. “Dulu sebelum pandemi pedagang berlomba-lomba untuk buka, sekarang di masa pandemi berlomba-lomba untuk tutup,” guraunya.

Dirinya pun berharap agar kegiatan wisata kembali diperbolehkan, sehingga ia dan pedagang lainnya dapat beroperasi melakukan kegiatan berdagang seperti sedia kala.  “Saat seperti ini, yang membeli itu orang lokal yang kebetulan lewat saja. Kalau memang dari wisatawan sangat jarang. Kalau dulu sebelum pandemi nyari Rp 500.000 sehari ya astungkara dapat. Kalau sekarang sehari pun belum tentu dapat berjualan,” ujarnya sambil tertawa.

Kasih Sukarsana dan Jero Tampaksiring pun berharap, agar pandemi segera berakhir, dan kegiatan wisatawan pun kembali bergeliat. “Kalau sudah ada wisatawan yang berkunjung, minimal harapan untuk laku berjualan itu ada. Kalau seperti sekarang, pengunjung pun tidak ada, susah untuk mengupayakan barang laku,” tutup Kasih Sukarsana diamini Jero Tampaksiring. *rma


TONTON JUGA:
Aliansi BEM se-Bali Kritisi Penanganan Pandemi yang Dilakukan Pemerintah


Komentar