nusabali

Diserang Kanker Kulit Ganas hingga Telinganya Habis

  • www.nusabali.com-diserang-kanker-kulit-ganas-hingga-telinganya-habis

Dua hari sebelum diajak berobat ke RS Sanglah, Dadong Sujani sempat terpeleset jatuh di kamar mandi rumahnya kawasan Banjar Pendem, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng hingga patah tulang bahu

Derita Ni Ketut Sujani, Dadong Asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng

DENPASAR, NusaBali
Kondisi sangat memprihatinkan dialami Ni Ketut Sujani, 65, dadong (nenek) asal Banjar Pendem, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng. Gara-gara serangan kanker kulit ganas (squamous cell carcinoma), organ telinga kiri dadong berusia 65 tahun ini nyaris tidak berbentuk lagi.

Saat ini, Dadong Ketut Sujani menjalani rawat jalan di RS Sanglah, Denpasar. Dia dirujuk berobat ke RS Sanglah, sejak Senin (26/4) lalu, karena kondisinya semakin parah. Namun, dia tidak dirawat inap di RS Sanglah, melainkan tinggal sementara di sebuah rumah kontrakan di Jalan Pulau Aru Nomor 15 Denpasar, yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tersebut.

Saat NusaBali menjenguknya ke rumah kontrakan tersebut, Kamis (26/4) sore, Dadong Sujani ditunggui suami tercintanya, I Nengah Sedana, 70. Adalah relawan Yayasan Rumah Singgah Peduli yang mendampingi Dadong Sujani dalam pengobatan ke RS Sanglah. Relawan ini pula yang mencarikan pasutri Pekak (Kakek) Nengah Se-dana dan Dadong Sujani rumah kontrakan, karena usianya sudah cukup sepuh.

Menurut relawan Yayasan Rumah Singgah Peduli, Desita Yunda Pratiwi, pasutri Pekak Sedana dan Dadong Sujani hanya tinggal sementara waktu di rumah kontrakan Jalan Pulau Aru Denpasar tersebut, sembari menunggu tindakan medis yang bakal dilakukan pihak RS Sanglah. “Saat ini, masih menunggu tindakan medis,” jelas Desita Yunda Pratiwi, yang kemarin mendampingi Dadong Sujani di rumah ko-ntrakannya.

Desita menyebutkan, Dadong Sujani divonis dokter menderita kanker kulit ganas atau squamous cell carcinoma. Kanker ini menyerang daging telinga Dadong Sujani di bagian kiri dan sudah menggerogoti hingga tulang tengkorak. Kondisi telinganya kini sangat memprihatinkan. Bahkan, dokter menyatakan tindakan operasi tidak bisa lagi dilakukan, karena kondisi Dadong Sujani sangat parah. Jika dilakukan operasi, dikhawatirkan akan mencederai bagian otak.

“Dokter bilang nggak bisa dioperasi, karena kanker kulit ganas ini sudah menggerogoti bagian tengkoraknya. Sehingga tindakan yang bisa dilakukan hanya biopsi, kemoterapi, dan sinar, dengan harapan lukanya mengecil dan semakin kering,” cerita Desita.

Pantauan NusaBali, Rabu sore, Dadong Sujani tampak tergolek lemas di tempat tidur rumah kontrakannya. Namun, sesekali dia meminta bangun dari tidur dengan dibantu suaminya, Pekak Sedana. Bagian telinga kirinya sudah terbalut perban. Sementara bagian bahunya tidak bisa digerakkan.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, dua hari sebelum diajak berobat ke RS Sanglah, Dadong Sujani sempat terpeleset jatuh di kamar mandi rumahnya kawasan Banjar Pendem, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng. Akibatnya, tulang bahunya patah, sementara telinganya mengalami pendarahan.

Derita Dadong Sujani tidak berhenti sampai di situ. Suami tercintanya, Pekak Sedana, juga nampak sudah sudah sakit-sakitan. Menurut Pekak Sedana, istrinya mulai mengalami pembengkakan pada telinga kiri, sejak 4 bulan lalu. Awalnya, Dadong Sujani membersihkan telinganya yang bengkak menggunakan cottonbud. Entah karena terlalu dalam saat mengorek telinga atau bagaimana, Dadong Sujani kemudian mengeluhkan telinganya sakit. Ternyata, telinga bagian dalam Dadong Sujani terluka.

“Awalnya luka kecil, tapi sejak dua bulan lalu terus membesar. Mih, tiyang sebet, kurenan tiyang kekene. Ten tawang lakar kene dadine. (Mih, sedih sekali istri saya jadi begini. Nggak tahu bakal jadi seperti ini, Red),” tutur Pekak Sedana dengan logat Buleleng.

Karena tidak memiliki uang, Pekak Sedana hanya mengandalkan pengobatan tradisional untuk mengobati istrinya. Obat tradisional itu berupa tumbukan daun cabai yang ditempelkan ke bagian telinganya yang terluka. “Ampun masi tiyang nakenang ke balian, kewala ten masi seger (Saya juga sudah tanya ke balian, tapi tidak juga sembuh, Red),” kenang Pekak Sedana.

Pekak Sedana mengisahkan, Dadong Sujani bukannya sembuh, namun kondisinya justru tambah parah. Setelah berbulan-bulan tidak ditangani, beberapa hari lalu saat diperiksa dokter, bagian dalam organ telinga Dadong Sujani ternyata sudah membusuk, bahkan keluar nanah dan ada belatung yang hidup di luka itu.

“Tiyang nak ten nawang napi. Pis ten ngelah, mangkin tiyang pasrah. Niki sampun ada nulungin, tiyang suksma banget (Saya orang yang tidak mengerti apa-apa. Uang tidak punya, sekarang saya pasrah dah. Ini sudah syukur ada yang bantu, saya terima kasih sekali),” lirihnya.  

Selama ini, Pekak Sedana dan Dading Sujani hanya hidup berdua. Sebab, anak perempuan satu-satunya sudah menikah ke Desa Pengelata, Kecamatan Buleleng. Pasutri Pekak Sedana-Dadong Sujani hidup seadanya, mengantungkan nafkah dari hasil pekerjaan menjual daun pisang ke beberapa pasar tradisional di Kota Singaraja. Pekak Sedana sudah menggeluti pekerjaan ini sejak lama. Sedangkan istrinya, Dadong Sujani, hanya di rumah.

“Kadang kami pelihara babi juga. Jualan daun pisang juga tidak seberapa, hasilnya menentu. Sekali pakai beli kebutuhan sehari-hari saja, sudah langsung ambles. Itu kalau saya sedang sehat. Jika saya sakit, sudah tua begini, saya nggak bisa kerja,” keluh pekak berusia 70 tahun ini.

Sementara itu, untuk biaya pengobatan Dadong Sujani saat ini menggunakan fasilitas Jamkesmas. Namun, untuk biaya hidup sehari-hari, pasutri sepuh lebih banyak mengandalkan kebaikan hati para donatur. * in

Komentar