nusabali

Mbed-mbedan di Desa Adat Semate, Mabuug-buugan di Kedonganan

  • www.nusabali.com-mbed-mbedan-di-desa-adat-semate-mabuug-buugan-di-kedonganan
  • www.nusabali.com-mbed-mbedan-di-desa-adat-semate-mabuug-buugan-di-kedonganan

Krama Desa Adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, tumpah ruah di Pura Desa lan Puseh, untuk mengikuti tradisi mbed-mbedan, Rabu (29/3) pagi. 

MANGUPURA, NusaBali
Masyarakat setempat percaya tradisi yang mirip tarik tambang ini adalah warisan turun temurun yang terus dipertahankan sampai sekarang guna memupuk tali persaudaraan antar-sesama.

Uniknya lagi tradisi ini hanya dilakukan setahun sekali atau pada saat Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Tradisi ini konon sudah ada sekitar tahun Saka 1396 atau 1474 Masehi pada saat pemlaspasan berdirinya Pura Kahyangan Tiga di Desa Adat Semate.

Tradisi ini sempat ditiadakan selama bertahun-tahun, baru mulai dilaksanakan kembali pada 2011 yaitu pada sasih kadasa, tanggal pisan (Hari Raya Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi). Tujuan diadakannya lagi tradisi ini untuk mohon keselamatan dan anugerah Hyang Bhatara, dengan menghaturkan upakara daksina suci pada pura yang menjadi sungsungan di Desa Adat Semate. 

Sebelum melaksanakan tradisi ini lagi, tokoh masyarakat menelusurinya dan ketemulah jawaban atas kegiatan mbed-mbedan. Penelusuran sejarah Desa Adat Semate hingga ke ahli lontar di daerah Munggu dan Kapal, Kecamatan Mengwi. Akhirnya setelah enam tahun penelusuran ditemukan asal-usul Desa Adat Semate dalam Raja Purana.

“Dulu tidak tahu untuk apa melaksanakan ini (mbed-mbedan). Karena tidak terkoordinasi, jadinya hilang,” tutur Bendesa Adat Semate I Gede Suryadi didampingi sejumlah prajuru desa, kemarin usai melaksanakan tradisi mbed-mbedan. 

Suryadi menjelaskan, awalnya sebelum ada Desa Adat Semate, wilayah setempat merupakan hutan angker. Suatu ketika, datanglah Rsi Mpu Bantas ke tempat itu. Berkat Rsi Mpu Bantas juga orang-orang di sana diminta membangun tempat pemujaan Ida Bhatara. Setelah selesai dibangun, terjadi perdebatan tentang nama pura. Oleh Rsi Mpu Bantas kemudian disarankan diberi nama Putih Semate. Putih berasal dari kata Kayu Putih, sedangkan Semate karena orang-orang tersebut bersatu, tidak mau tunduk pada orang lain dan berketetapan hati untuk tinggal di wilayah tersebut, sehidup-semati. Semenjak saat itu diadakan tradisi mbed-mbedan sebagai simbol tarik ulurnya penamaan pura.

Selain untuk mohon keselamatan dan anugerah Hyang Bhatara, kegiatan mbed-mbedan juga untuk menanamkan nilai-nilai persatuan antar-sesama. “Supaya tetap rukun di dalam keluarga maupun masyarakat. Selain itu tipat dan bantal yang juga kami makan bersama-sama juga merupakan simbol kemakmuran,” jelasnya. Dia menyebut krama Desa Adat Semate berjumlah 70 kepala keluarga (KK).

Prajuru Desa Bidang Pasraman I Ketut Suwanda, juga menyatakan tujuan tradisi ini adalah menguatkan persatuan dan kesatuan, di samping meneruskan tradisi yang sudah diwariskan. 

Ditanya tentang dampak jika tradisi tersebut tidak dilaksanakan, dia mengatakan tidak ada. “Meski tidak dilaksanakan, sebenarnya tidak timbul apa-apa. Namun hal ini merupakan kewajiban kami untuk melanjutkan tradisi leluhur,” katanya.

Berdasarkan pantauan kemarin, sebelum melaksanakan tradisi mbed-mbedan menggunakan tumbuhan menjalar ‘bun kalot’ sebesar pergelangan tangan yang diambil khusus di setra setempat, warga terlebih dahulu melakukan persembahyangan di pura. Usai sembahyang, masyarakat baik laki-laki maupun perempuan kemudian ke luar ke depan pura, tepatnya di Jalan Abianbase. Secara simbolis prajuru desa adat membuka tradisi ini dengan menggunakan ‘bun kalot’. Namun setelah prosesi selesai, selanjutnya muda-mudi yang ikut memeriahkan menggantinya dengan tali biasa.

Secara umum tradisi ini mirip seperti permainan tarik tambang, yakni satu kelompok berada di satu sisi dan kelompok lainnya berada di sisi yang lain. Kemudian satu sama lain kedua kelompok menarik tali yang sudah dipersiapkan. Setelah melaksanakan tradisi ini, masyarakat lalu ke jeroan pura untuk bersama-sama menikmati hidangan berupa tipat (ketupat) dan jajan bantal. Terakhir seluruh krama satu sama lain bersamalam sebagai ungkapan saling memaafkan. 

Sementara ratusan krama Kedonganan melaksanakan tradisi Meauug-buugan saat Ngembak Geni, Rabu (29/3). Pelaksanaan ini merupakan kali ketiga, setelah vakum sejak 1960, dan kembali dibangkitkan tahun 2015 lalu.

Menurut Ketua Panitia Mabuug-buugan I Made Gede Budhiasa, tradisi ini bertujuan melakukan pembersihan diri. Kata buug yang artinya tanah atau lumpur, diibaratkan sebagai kekotoran yang melekat dalam diri. Sebab setelah acara perang lumpur selesai, warga bersama-sama membersihkan diri dengan berjalan menuju pantai.

Prosesi dimulai dari berkumpul di Bale Agung. Ratusan orang dari enam banjar Desa Adat Kedonganan kemudian menuju ke hutan mangrove untuk prosesi tradisi perang lumpur. Warga lalu mengitari Desa Adat Kedonganan, menuju Barat dan berakhir dengan membersikan diri ke Pantai Pemelisan.

“Untuk mabuug-buugan kami lakukan di mangrove. Kami sudah melakukan penelitian bekerjasama dengan Universitas Udayana untuk mengecek kondisi lumpur di mangrove apakah layak digunakan. Nah usai perang lumpur, kami berjalan bersama untuk pembersihan menuju Pantai Pemelisan, Kedonganan,” ungkapnya.

Secara sejarah, Budhiasa menjelaskan, tradisi mabuug-buugan sejatinya sudah ada sejak tahun 1930-an. Namun sempat mati suri sejak tahun 1960 hingga zaman G30S/PKI. Setelah itu pemuda-pemudi setempat berinisiatif untuk membangkitkan kembali tradisi luhur yang dimiliki Desa Kedonganan. 

“Kami sudah mendaftarkan tradisi ini ke Dinas Kebudayaan Badung untuk mendapatkan legalitas. Artinya, kami ingin agar apa yang kami miliki tercatat, dikenal, dan diakui di Kabupaten Badung. Selanjutnya kami juga akan menghadap Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk legalitas ini. Bila perlu tercatat sebagai warisan budaya secara nasional,” katanya.

Selain itu, hal menarik lainnya yang membedakan dengan pelaksanaan sebelumnya yakni dibukanya event Segara Langu diperuntukkan bagi para pedagang asli Desa Kedonganan. Pasar Segara Langu ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian, di samping untuk melestarikan kuliner khas Bali. “Untuk saat ini kami utamakan makanan-makanan Bali. Namun karena bertepatan akan menyambut Galungan beberapa hari lagi, jadi tidak semua pedagang bisa menjajakan masakan Bali. Jadinya, untuk saat ini masih campuran pedagangnya,” ujarnya. 

Komentar