nusabali

Khawatir Penerus Kesenian Arja

  • www.nusabali.com-khawatir-penerus-kesenian-arja

“Kalau sudah kadung tidak rungu (peduli) dengan arja, pupuh, kadangkala tata bahasa Bali juga jarang diperhatikan. Nah inilah menjadi satu kegelisahan, karena itu saya coba mengumpulkan anak-anak untuk bermain arja”

Sanggar Siwaratri Tampilkan Seniman Remaja

DENPASAR, NusaBali
Lebih dari sepekan ajang Bali Mandara Mahalango (BMM) III telah berjalan sejak dibuka Minggu (10/7) lalu. Berbagai pagelaran kesenian inovatif pun telah disuguhkan. Pada Kamis (21/7) malam, giliran Sanggar Siwaratri dari Banjar Biya, Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar tampil menghibur penonton.

Seketika sanggar yang unjuk kebolehan membawakan lakon Padma Hredaya di Kalangan Ayodya Taman Budaya Bali, Kamis malam itu langsung menarik perhatian penonton. Dramatari arja remaja yang digagas oleh sang pemilik sanggar, Ni Wayan Latri itu tampil kocak dan menghibur. Sebagian besar seniman yang masih remaja, terlihat serius membuat lawakan agar penonton tertawa.

Latri mengungkapkan, sesungguhnya dia khawatir dengan penerus kesenian arja saat ini. Di tengah kemajuan zaman dengan berbagai kemudahan teknologi, bukan tidak mungkin, kesenian terutama arja akan semakin sedikit yang berminat mempelajarinya. Karena itu, dia berinisiatif merintis kembali semangat anak-anak untuk menekuni kesenian tradisional arja. “Kalau sudah kadung tidak rungu (peduli) dengan arja, pupuh, kadangkala tata bahasa Bali juga jarang diperhatikan. Nah inilah menjadi satu kegelisahan, karena itu saya coba mengumpulkan anak-anak untuk bermain arja,” ungkapnya.

Disamping memberikan semangat, ternyata penyediaan ruang untuk berekspresi bagi anak-anak juga sangat memberikan dampak semangat yang lebih tinggi. Sebab, tampil di depan orang banyak akan memberikan rasa percaya diri dan semakin mencintai kesenian yang dibawakannya. Latri pun mengapresiasi adanya event-event kesenian yang diprogramkan oleh pemeritah provinsi Bali dalam kaitannya pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali.

“Kami sangat apresiasi adanya kegiatan seperti ini (PKB, Mahalango, Nawanatya), sebab jika tidak ada ruang untuk tampil, anak-anak pasti akan jenuh untuk latihan. Jika latihan terus tanpa ada ruang untuk berekspresi, mereka mungkin saja aan berpaling meninggalkan kesenian ini,” tuturnya.

Sebanyak 17 seniman yang bermain dalam arja remaja inovatif malam lalu memang sebagian besar remaja, dengan didampingi beberapa seniman dewasa yang mengisi beberapa penokohan sesuai usianya. Dalam garapan tersebut, ungkap Latri, beberapa alur cerita terlihat berbeda. Jika pada pakem sesungguhnya, arja berpatokan dengan condong, galuh, limbur, desak, dan pemeran lain yang tampil terlebih dahulu, namun dalam garapan tersebut, justru permaisuri yang tampil lebih dulu, baru datang  desak rai dan galuh menghadap permaisuri.

“Kami tetap menggunakan pakem pada setiap penokohannya. Untuk menyingkat waktu karena ini lumayan lama juga, maka dalam cerita kami juga tampilkan seorang raja yang memaparkan keadaan negerinya. Sisi inovatif lainnya kami isi dengan lawakan-lawakan serta bagian tabuh juga kami coba atur agar lebih inovatif,” katanya. * i

Komentar