nusabali

Korban Sempat Curhat Soal Mimpi Diberi Baju oleh Nenek Misterius

  • www.nusabali.com-korban-sempat-curhat-soal-mimpi-diberi-baju-oleh-nenek-misterius

Jenazah korban Kadek Dwi Asmarani, siswi korban tenggelam yang selama ini selalu juara kelas di SMK Kesehatan Widarba, bakal diupacarai Makingsan ring Gni di Setra Desa Pakraman Pegadungan pada Wraspati Pon Krulut, Kamis besok

Polisi Periksa 8 Saksi Terkait Musibah Dua Siswi SMK Kesehatan Tewas Tenggelam di Air Terjun

SINGARAJA, NusaBali

Jajaran kepolisian terus menyelidiki musibah maut dua siswi SMK Kesehatan Widarba Sukasada tewas tenggelam di Air Terjun Tembok Barak, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Senin (11/12) pagi. Kesimpulan sementara, peristiwa maut yang merenggut nyawa Kadek Dwi Asmarani, 17 (siswi Kelas VIII Jurusan Keperawatan) dan Luh Devi Cahyani, 17 (siswi Kelas VII Jurusan Keperawatan) ini ini murni musibah, tak ada unsur kesengajaan. Sebelum tewas tenggelam, korban Kadek Dwi Asmarani sempat curhat kepada temannya soal mimpi diberi baju oleh nenek misterius.

Kasubag Humas Polres Buleleng, AKP I Nyoman Suartika, menyatakan hingga H+1 kejadian, Selasa (12/12), penyidik kepolisian sudah meminta keterangan 8 saksi. Mereka terdiri dari 4 siswa SMK Kesehatan Widarba di Lingkungan Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada yang merupakan teman-teman korban tewas dan 4 guru pendamping yang ikut refreshing ke Air Terjun Tembok Barak Keempat guru pendamping itu masing-masing Putu Supartini, 24, Ni Putu Subiantari, 24, I Gusti Ngurah Agus Deni, dan Ketut Purnamasari.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kata AKP Nyoman Suartika, penyidik belum menemukan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam musibah maut. “Dari keterangan saksi-saksi, program refreshing ke air terjun itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Sebelum kejadian, guru yang mengantar mereka sudah memberikan gambaran batasan areal mandi. Sejauh ini, belum kami temukan unsur kesengajaan dalam kasus tersebut,” ungkap AKP Suartika di Singaraja, Selasa kemarin.

Menurut AKP Suartika, pihaknya juga berencana memeriksa Kepala Sekolah (Kasek) SMK Kesehatan Widarba, I Gusti Putu Arsila, serta pihak keluarga korban untuk mendapatkan keterangan yang pasti terkait kasus ini. Namun, belum dipastikan kapan Kasek IGP Arsila akan diperiksa.

Musibah maut yang merenggut nyawa Kadek Dwi Asmarani dan Luh Devi Cahyani itu sendiri menyisakan duka bagia keluarga dan teman-teman korban di SMK Kesehatan Widarba. Ada siyarat niskala yang dirasakan teman korban sebelum peristiwa maut, sebagaimana diungkapkan Kadek Satria Handayana, 17, salah satu siswi yang kemarin diperiksa sebagai saksi di Mapolsek Sukasada.

Menurut Kadek Satria Handayana, sehari sebelum peristiwa maut, dirinya sempat mandi bareng dengan korban Kadek Dwi Asmariani, Minggu (10/12). Saat itu, korban Dwi Asmariani tumben memberikan sebuah switer kepada Kadek Satria, yang tidak sengaja mencucinya. “Waktu itu, Dwi Asmariani juga cerita bahwa dia sempat mimpi diberikan baju oleh seorang nenek yang tidak dikenal,” cerita Satria Ha-ndayana yang juga Ketua OSIS SMK Kesehatan Widarba.

Kemudian, Senin pagi atau beberapa jam sebelum berangkat tracking ke air terjun dan akhirnya terjadi peristiwa maut, korban Dwi Asmariani juga memberi tanda perpisahan secara niskala. Ketika itu, korban asal Desa Pegadungan, Kecamatan Sukasada, Buleleng tersebut kembali menunjukkan gelagat aneh dan tumben membelikan Satria Handayana nasi kuning. Mereka pun sempat sarapan bersama sebelum menuju air terjun.

Satria Handayana mengaku sangat trauma dengan peristiwa maut yang merenggut nyawa dua rekannya. Pasalnya, belaan siswa yang ikut tracking pagi itu menyaksikan langsung kedua korban nekat mandi di kubangan Air Terjun Tembok Barak yang berbahaya. “Saya juga tidak mengerti, kenapa mereka nekat mandi di sana? Padahal, Pak Deni (salah satu guru pendamping, Red) sudah memberikan batas mandi yang aman,” ujar siswi asal Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini.

Menurut Satria Handayana, dalam keseharian korban Dwi Asmarani adalah sosok yang cerdas dan periang. Korban Dwi Asmariani selalu jadi juara kelas di Jurusan Keperawatan. “Dia juga jago dalam pelajaran Matematika,” katanya.

Sementara itu, suasana duka mendalam terjadi di rumah korban Dwi Asmarani di Banjar Dinas Katiasa, Desa Pegadungan, Kecamatan Sukasada, Selasa kemarin, saat rombongan sekeolah datang melayat. Pihak keluarga korban tampak masih sedih, namun berusaha tegar. Hingga kemarin, jenazah Dwi Asmariani masih disemayamkan di rumah duka. Rencananya, jenazah siswi korban tewas tenggelam ini akan diupacarai Makingsna ring Geni di Setra Desa Pakraman Pegadungan pada Wraspati Pon Krulut, Kamis (14/12) besok.

Dwi Asmarani merupakan anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Gede Arya Saputra dan Ketut Resini. Sang ayah, Gede Arya Saputra, mengaku terakhir bertemu putrinya saat Hari Raya Kuningan, 11 November 2017 lalu.

“Setelah itu, kami tidak pernah ketemu lagi. Tidal ada firasat apa-apa. Kami sudah mengiklaskan kepergian Kadek Dwi,” ujar Gede Arya Saputra. “Tapil saya minta kepada pihak sekolah agar ke depannya mengevaluasi kejadian ini sebagai pelajaran, sehingga tidak terulang musibah serupa,” imbuhnya.

Terkait masalah itu, Ketua Yayasan SMK Kesehatan Widarba, Gusti Made Dana, berjanji akan mengevaluasi kegiatan kesiswaan, sehingga tidak lagi ada mis komunikasi antara bagian kesiswaan dengan pihak sekolah sebagai penanggung jawab utama. “Kami pihak yayasan dan juga sekolah meminta maaf kepada keluaga atas kejadian ini. Semoga almarhum mendapat tempat sesuai karmanya dan keluarga bisa ditabahkan,” jelas Gusti Made Dana.

Musibah maut tewasnya Kadek Dwi Asmarani dan Luh Devi Cahyani itu sendrii terjadu saat 22 siswa yang didominasi perempuan dan 4 guru pendamping bikin acara tracking di Air Terjun Tembok Barak di Desa Sambangan, Senin pagi. Mereka berangkat jalan kaki dari sekolahnya ke lokasi air terjun sekitar pukul 08.00 Wita.

Setelah sampai di lokasi, para siswa dan guru sempat melakukan persembahyangan bersama di pura dekat Air Terjun Tembok Barak. Setelah itu, barulah mereka mandi. Sekitar pukul 09.00 Wita, tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong salah seorang siswa. Sambil menjerit, siswa tersebut mengatakan bahwa Luh Devi Cahyani tenggelam. Megetahui hal tersebut, salah seorang siswa, Dek Ama, sempat melakukan upaya pertolongan karena bisa berenang. Hanya saja, Dek Ama akhirnya menyerah karena korban Devi Cahyani sudah hilang dari permukaan kubangan air.

Diduga bermaksud hendak menolong Devi Cahyani, korban Kadek Dwi Asmarani ikut terjun ke tengah kubangan air terjun. Tak lama berselang, dwi Admarani ikut hilang tenggelam bersama Devi Cahyani. Korban Devi Cahyani ditemukan sudah dalam kondisi tewas di kedalaman 6 meter kubangan air terjun, Senin siang pukul 11.30 Wita. Sedangkan korban dwi Asmariani ditemukan di lokasi yang sama pukul 11.40 Wita, juga dalam kondisi tewas. *k23

loading...

Komentar