nusabali

Kala Maestro Tarikan Topeng Koleksi Museum Bali

  • www.nusabali.com-kala-maestro-tarikan-topeng-koleksi-museum-bali

Seni budaya Bali memang sudah tersohor ke seluruh dunia.

DENPASAR, NusaBali
Seiring berkembangnya zaman, pengembangan seni pun mengikuti, termasuk kesenian topeng. Namun, bagaimanakah seluk beluk pertopengan di Bali serta kondisi sejumlah topeng kuno saat ini?

Melalui demonstrasi topeng dalam rangkaian Bali Mandara Nawanatya II, tiga maestro seni Bali, yakni Prof Dr I Made Bandem, Prof Dr I Wayan Dibia, dan I Ketut Kodi SSP MSi, menarikan sejumlah topeng kuno koleksi Museum Bali, Rabu (11/10). Termasuk Ketua Listibiya Provinsi Bali, Dr I Nyoman Astita juga ikut mengiringi sebagai penabuh kendang.

Sebelum menari, ketiga maestro juga memberikan pemahaman mengenai asal usul topeng, termasuk penggunaan topeng tersebut pada zaman dahulu. Sedikitnya ada 25 buah topeng yang ditampilkan, yang dikelompokkan ke dalam beberapa jenis topeng diantaranya, Topeng Brutuk, Barong Landung, Barong Ket, Wayang Wong, Tapel Barong Blasblasan (Barong Kedingkling), Topeng Bidadari (Telek), Topeng Gajah Mada, Topeng Panca, Topeng Pajegan, serta Topeng Rangda.

“Topeng sudah ada sejak zamannya Kerajaan Gelgel. Pada tahun 1342 Masehi semua prasasti menyebutkan sudah adanya topeng, termasuk Prasasti Bebetin 896 Masehi sudah disebutkan ada tapel. Tidak hanya sebagai simbol Bhatara-bhatari, topeng juga masa itu sebagian besar menjadi seni pertunjukan,” kata Prof Bandem.

Prof Bandem meyakini, dari sekian yang ditampilkan kemarin, ada topeng atau barong dari abad ke-18. “Saya rasa ada beberapa barong di sini yang dari abad ke-18. Tapel Barong Ket yang kita perkirakan dibuat oleh raja-raja Badung. Pembuat tapel yang hebat dari Puri Grenceng. Sedangkan Wayang Wong lahir pada tahun 1775-1825,” jelasnya.

Selain 25 buah topeng masih banyak topeng lain yang ada di Museum Bali. Prof Bandem menyebut ada sebanyak 386 koleksi topeng di Museum Bali, yang selama ini hanya sebagian kecil yang bisa dipamerkan karena terkendala gedung yang terbatas. Meski pemeliharaan secara kimiawi sudah bagus, namun menurutnya masih perlu pemeliharaan secara artistik, sebab kondisinya lebih banyak tersimpan dalam kotak-kotak yang sulit dilihat masyarakat.

“Tujuan demonstarasi ini maksudnya agar sedikit demi sedikit kita bisa menampilkan koleksi museum, supaya suatu saat museum ini punya suatu kekhasan. Sambil juga menyosialisasikan bahwa topeng itu merupakan salah satu seni pertunjukan yang sangat hebat di Bali, dan sekaligus bisa menjadi pengungkap sejarah,” katanya. 7 in

loading...

Komentar