nusabali

Sebanyak 13 Pasien RSJ Tanpa Penjamin

  • www.nusabali.com-sebanyak-13-pasien-rsj-tanpa-penjamin

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bali di Bangli, sebanyak 13 orang tanpa penjamin. 

BANGLI, NusaBali
Pasien tanpa penjamin ini belum memiliki kartu indonesia sehat (KIS), sehingga biaya perawatan belum terbayarkan. Pihak rumah sakit berupaya menelusuri identitas pasien serta asal-usul.

Hal tersebut diungkapkan Wadir Pelayanan RSJ Bali I Dewa Gde Basudewa serta Wadir Administrasi dan Sumber Daya I Gusti Putu Buana Parta, saat ditemui, Selasa (8/8). Dijelaskannya, dari 45 pasien telantar yang dirawat, 32 orang di antaranya sudah memiliki jaminan kesehatan. Setelah pihak rumah sakit berhasil menulusuri identitas pasien dan ada penjamin. Sementara hingga kini 13 pasien telantar belum jelas identitasnya. 

“Meski belum ada penjamin pasien tersebut tetap kami layani. Kami tidak boleh tidak merawat pasien,” ujar Buana Parta. 

Biaya perawatan 13 pasien tersebut tetap dihitung, meski belum ada kepastian pihak yang menanggung biaya tersebut, mengingat pasien belum memiliki jaminan kesehatan. 

Bila sebelumnya masih ada program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM), pasien telantar ditanggung oleh pemerintah provinsi. Setelah JKBM dialihkan ke Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pasien telantar harus ada penjamin, selain itu pasien wajib memilik NIK agar bisa diurus kepesertaan JKN-nya. 

“Bila NIK ada, JKN bisa diurus sehingga biaya perawatan bisa ditanggung,” imbuh Buana Parta. 

Sesuai data tercatat 198 pasien JKBM. Setelah peralihan ke JKN, sebanyak 84 orang ditanggung KIS. Kemudian 23 orang menggunakan KIS mandiri. “Sisa 91 orang dan keberadaannya belum jelas,” ungkap Buana Parta. 

Kendala yang dialami RSJ Bali tidak hanya soal dana perawatan pasien telantar. Persoalan lainnya adalah, untuk klaim JKN hanya bisa dilakukan bila pasien sudah pulang. Sedangkan pasien tersebut tidak memiliki tempat tinggal. Diakui pihaknya tengah mencarikan solusi. 

“Sebaiknya ada rumah singgah untuk mereka, sembari mencari pihak keluarga yang bersangkutan. Bahkan setelah ditelusuri, pasien telantar dari Kalimantan, Riau, Flores,” beber Buana Parta. 

Ditambahkan Wadir Pelayanan Gde Basudewa, kendala mengubah stigma di masyarakat. Tidak jarang pasien yang sudah sembuh tapi tidak diterima di lingkungannya. 

“Kadang pasien kami antar ke rumah, baru sampai di depan rumah, tetangga menunjukkan keberatan atas pulangnya pasien tersebut. Ini yang malah membuat drop pasien, dan ini memicu sakit kembali dan menutup kemungkinan melakukan tindakan bunuh diri,” tuturnya. 

Diharapkan masyarakat di sekitar membantu pasien agar segera pulih. Sebelum pasien dipulangkan, pihak rumah sakit lebih dulu melakukan pendekatan dengan keluarga, memberikan pemahaman tindakan apa yang harus dilakukan. “Kami juga sampaikan tanda-tanda bila pasien kumat. Begitu juga kami berikan pemahaman pada pasien sebelum pulang,” imbuhnya. *e

Komentar