nusabali

Sebulan, Penyuluh Bahasa Bali Temukan 302 Lontar di Badung

  • www.nusabali.com-sebulan-penyuluh-bahasa-bali-temukan-302-lontar-di-badung

Penyuluh Bahasa Bali menemukan sebanyak 302 naskah lontar di wilayah Kabupaten Badung. Ratusan lontar ini ditemukan dalam kurun waktu sekitar satu bulan dari identifikasi yang dilakukan sejak April hingga Mei 2017.

MANGUPURA, NusaBali

Namun dari jumlah itu 63 di antaranya sudah dalam kondisi rusak. Naskah lontar ini ditemukan di beberapa desa, di antaranya Desa Angantaka dan Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal; Desa Carangsari, Kecamatan Petang; Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara; serta Kelurahan Kedonganan dan Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta. Adapun jenis ratusan lontar yang berhasil diperoleh dari rumah warga ini berupa lontar wariga, usada, tutur, geguritan, kekawin, dan masih banyak lagi.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung Ida Bagus Anom Bhasma, mengungkapkan temuan ratusan lontar di wilayah Gumi Keris berkat kerja sama Penyuluh Bahasa Bali yang bergerilya ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan pendataan. Nah, dari hasil pendataan yang dilakukan teridentifikasi sedikitnya 302 lontar. Namun demikian, tidak semua naskah lontar yang teridentifikasi dalam kondisi baik. “Tapi tidak semua bagus, ada 63 naskah lontar yang rusak,” ungkap birokrat asal Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, tersebut ketika dikonfirmasi, Minggu (21/5).

Apa upaya pemerintah atas temuan ratusan lontar ini? Anom Bhasma menyatakan, Bagian Dokumentasi akan menentukan apakah naskah lontar yang ditemukan dari rumah warga tersebut dapat didigitalisasi atau direproduksi untuk koleksi pemerintah. “Ini demi mencegah lontar tersebut dari kepunahan,” tegasnya.

Anom Bhasma menambahkan, selain menyalin lontar dalam bentuk digitalisasi dan semacamnya, pemerintah juga memberikan pelatihan khusus kepada masyarakat yang terdata menyimpan naskah lontar. Yakni pelatihan tata cara perawatan lontar. “Harapan kami masyarakat dapat turut serta berperan menjaga, melestarikan, dan menghindarkan lontar dari kerusakan. Sehingga naskah lontar dapat terjaga dari generasi ke generasi. Sejauh ini tanggapan masyarakat positif dengan kegiatan ini. Malah masyarakat menginginkan program pelestarian lontar terus berlanjut,” katanya.

Dia berharap masyarakat berperan aktif memberikan naskah lontar koleksinya untuk didata baik oleh Disbud maupun Penyuluh Bahasa Bali. *asa

Komentar